Dapatkan kenyataannya: Apakah yang terkandung dalam pet food komersial?

Ayam utuh yang gemuk, potongan daging sapi pilihan, biji-bijian segar, dan semua gizi lengkap yang dibutuhkan anjing atau kucing Anda…

Semuanya adalah citra yang ditampilkan oleh pabrik pet food melalui media dan iklan. Industri senilai US$11 milyar per tahun ini menginginkan para konsumernya untuk percaya akan citra tersebut saat mereka membeli produk-produk pet food.

Laporan ini menyelidiki perbedaan di antara apa yang konsumer pikir mereka beli dan apa yang sesungguhnya mereka dapatkan. Laporan ini memusatkan perhatian pada istilah-istilah paling umum dari merk-merk paling terkemuka – label pet food yang didistribusi secara masal di banyak supermarket dan took diskon – akan tetapi ada banyak merk yang cukup dihormati yang mungkin juga bersalah akan tuduhan yang sama.

Apa yang kebanyakan konsumer tidak ketahui adalah kenyataan bahwa industri pet food merupakan perpanjangan dari industri agrikultur dan makanan manusia. Pet food menyediakan pangsa pasar bagi jeroan yang tidak terpakai di rumah jagal, biji-bijian yang “tidak layak untuk konsumsi manusia” dan produk-produk buangan lain untuk diubah menjadi profit. Buangan ini termasuk usus, lambung, kerongkongan dan kemungkinan bagian-bagian hewan yang terkena penyakit dan mengandung kanker.

Dari segi bisnis, perusahaan multinasional yang memiliki pabrik pet food berada dalam kondisi yang ideal. Perusahaan ini memiliki daya beli bahan baku yang tinggi dalam jumlah besar (bulk), yang menyebabkan produksi makanan manusianya juga menghasilkan pasar yang tinggi untuk produk buangan mereka,  dan divisi pet food mempunyai kesempatan yang besar untuk mengeruk keuntungan, dan seringnya lebih mudah untuk memakai produk-produk buangan tersebut sebagai bahan baku mereka.

Terdapat ratusan jenis pet food tersedia di pasaran, banyak terdapat pet food yang sama atau mirip. Akan tetapi, kebanyakan perusahaan yang memproduksi pet food menggunakan bahan baku dengan kualitas rendah atau dengan potensi berbahaya.

Bahan Baku

Meskipun harga beli pet food tidak selalu mencerminkan apakah pet food tersebut bagus atau tidak, namun harga seringkali merupakan indikator yang baik untuk melihat mutu suatu produk.

Sangat tidak mungkin suatu perusahaan yang menjual dog food generic sehargaUS$ 19.95 (sekitar Rp 180,000) untuk satu kemasan 40 lb (sekitar 19kg) menggunakan protein dan biji-bijian bermutu tinggi di dalam produk makanan tersebut. Biaya  untuk membeli bahan baku yang bermutu akan jauh lebih tinggi daripada harga jual tersebut.

Protein yang digunakan dalam pet food didapat dari berbagai sumber. Saat ternak sapi, babi, ayam, kambing dan binatang lainnya disembelih, pilihan potongan seperti jaringan otot tanpa lemak akan dipilih dan dipisahkan lebih dulu dari kerangka hewan untuk konsumsi manusia. Namun, sekitar 50% hasil dari tiap badan hewan tidak digunakan untuk makanan manusia. Apapun yang tersisa dari kerangka tersebut – tulang, usus, paru-paru, urat, dan hamper semua bagian lain yang biasanya tidak dikonsumsi manusia – akan digunakan untuk pet food, makanan ternak dan produk-produk lain.  “Bagian lain” ini dikenal sebagai “by-products,” “meat-and-bone-meal,” atau nama-nama lain yang mirip, yang sering dijumpai pada etiket pet food.

The Pet Food Institute – asosiasi perdagangan dari pabrik-pabrik pet food – mengakui penggunaan by-products dalam pet food sebagai penghasil pendapatan tambahan untuk produsen dan petani: “pertumbuhan industri pet food tidak hanya menyediakan pemilik hewan peliharaan dengan makanan yang lebih baik untuk hewan peliharaan mereka, tetapi juga menciptakan pasar tambahan yang menguntungkan untuk produk-produk peternakan di Amerika dan produk sampingan dari pengemasan daging, unggas dan industri makanan lain yang menghasilkan makanan untuk konsumsi manusia.”

Banyak dari hasil sampingan ini menyediakan sumber gizi yang masih dapat dipertanyakan untuk hewan-hewan kita. Mutu gizi dari by-product daging sapi dan ayam, daging giling dan organ pencernaan hewan dapat bervariasi dari nomor produksi satu ke lainnya. James Morris dan Quinton Rogers, dua professor dari Department of Molecular Biosciences, University of California di Davis Veterinary School of Medicine, memperkuat dugaan ini dengan berkata, “Tidak ada informasi praktis dari ketersediaan nutrisi alami untuk hewan peliharaan dalam berbagai bahan baku yang digunakan di pet food. Bahan baku ini pada umumnya adalah produk sampingan dari industri daging, unggas dan ikan, yang mempunyai potensi tinggi untuk berbagai variasi dari kompisis gizinya. Klaim-klaim nilai gizi yang memenuhi kebutuhan hewan dalam pet food, berdasarkan pada profil nutrisi terkini menurut Association of American Feed Control Officials (AAFCO) tidak memberikan jaminan akan tercapainya kebutuhan gizi sampai seluruh bahan baku dapat dianalisa dan nilai-nilai ketersediaan gizi alami dapat ditetapkan.”

Daging giling sapi dan ayam, by-product-meal, dan meat-and-bone meal adalah bahan baku yang umum dalam pet food. Istilah “meal” adalah hal yang umum dalam label kemasan pet food. Istilah “meal” berarti bahwa bahan baku yang digunakan bukanlah dari daging segar, tetapi telah melalui proses rendering. Apakah itu proses rendering? Rendering, seperti didefinisikan oleh Kamus Webster’s, adalah “memproses untuk kegunaan industri: memproses kerangka ternak dan mengekstrak minyak dari lemak, gajih dll dengan cara pencairan.” Sup ayam buatan rumah, dengan lapisan lemak tebal yang terbentuk di atasnya saat sup dingin, adalah contoh proses rendering mini. Rendering memisahkan material yang larut dalam lemak dengan material yang larut dalam air dan material padat, menghilangkan sebagian besar kandungan air dan membunuh bakteri pencemar, tetapi juga mengubah atau menghancurkan enzim-enzim alami dan protein yang terdapat di bahan mentah. By-product daging sapid an unggas, meskipun tidak melalui proses rendering, tetap bervariasi tinggi dalam komposisi dan mutu.

Apakah resiko memberi pet food komersial?

Para dokter hewan dan ahli gizi yang bertanggung jawab mengklaim bahwa memberikan sampah dari rumah jagal (slaughterhouse) kepada hewaan peliharaan  meningkatkan resiko terkena kanker dan penyakit menurun lainnya. Metode pengolahan yang digunakan oleh produsen pet food – seperti rendering, extruding (system panas dan tekanan untuk “meniup” makanan kering menjadi nugget atau kudapan), dan pemanggangan – tidak menghancurkan hormone yang digunakan untuk menggemukkan ternak, dan obat-obatan sepertiantibiotic dan barbiturate yang digunakan untuk menidurkan hewan!

Penyakit yang umumnya disebabkan oleh pet food komersial:

Problem pencernaan kronik, seperti muntah, diare, penyakit radang lambung

Problem kulit

Problem gigi

Batu ginjal

Diabetes

Hypothyroid

Alergi

Lemak  Hewan dan Unggas

Anda mungkin sadar akan bau yang unik dan kuat saat Anda membuka kemasan pet food baru – apakah sumber dari bau yang menyenangkan tersebut? Kemungkinan besar berasal dari lemak hewan yang telah melalui proses rendering, minyak dan lemak dari restoran, atau minyak-minyak lain yang terlalu berbau dan dianggap tidak dapat dikonsumsi manusia.

Lemak restoran telah menjadi komponen utama untuk lemak bagi pakan hewan selama limabelas tahun terakhir. Lemak ini, sering disimpan di drum berukuran 50 galon, mungkin disimpan di luar selama berminggu-minggu, terekspos kepada suhu ekstrim tanpa mengindahkan kebutuhan pemakaiannya. “Fat blender” atau perusahaan-perusaahaan rendering akan mengambil lemak bekas pakai ini dan mencampur beberapa jenis lemak menjadi satu, menstabilkannya dengan antioxidant yang kuat untuk memperlambat proses perusakan lebih lanjut, dan menjual produk yang telah dicampur ke perusahaan-perusaah pet food dan pengguna produk akhir lainnya.

Lemak-lemak ini disemprotkan secara langsung di atas kudapan atau pellet yang telah dibentuk, untuk membuat produk yang tawar menjadi bercita rasa. Lemak tersebut juga berfungsi sebagai agen penyatu dimana produsen juga mendambahkan penguat rasa lainnya. Ilmuwan pet food telah menemukan kenyataan bahwa hewan peliharaan suka rasa dari lemak yang disemprotkan tersebut. Para produsen ini sangat ahli dalam membuat anjing anda memakan sesuatu yang biasanya tidak akan mau dimakan dalam kondisi aslinya.

Gandum, kacang hijau, jagung, kulit kacang dan protein nabati lainnya

Jumlah produk biji-bijian yang digunakan dalam pet food telah meningkat selama decade terakhir. Setelah sebelumnya hanya dianggap sebagai pengisi oleh industri pet food, produk sereal dan biji- bijian sekarang telah menggantikan proporsi daging secara signifikan dibandingkan saat pertama kali pet food komersial diproduksi. Ketersediaan nutrisi dari produk-produk ini tergantung dari sebagaimana mudah biji-bijian ini dicerna.

Jumlah dan tipe karbohidrat dalam pet food menentukan jumlah nilai gizi yang sesunnguhnya didapat oleh hewan peliharaan. Anjing dan kucing dapat menyerap hamper semua karbohidrat dari jenis biji-bijian tertentu, contohnya beras merah. Hampir 20% nilai gizi dari biji-bijian lain dapat melewati proses pengolahan makanan tanpa diserap. Gizi dari kentang dan jagung jauh lebih sedikit daripada yang terdapat dalam beras. Beberapa bahan seperti kulit kacang digunakan sebagai pengisi atau sumber serat, dan tidak mempunyai kandungan gizi.

Dua dari tiga bahan utama pet food, khususnya dry food, hampir selalu merupakan jenis produk biji-bijian. Pedigree Performance Food for Dogs mengandung Ground Corn, Chicken By-Product Meal, dan Corn Gluten Meal sebagai tiga bahan baku utamanya. Karena anjing adalah karnivora sejati – mereka harus makan daging untuk memenuhi kebutuhan fisiologi tertentu – Anda mungkin bertanya-tanya mengapa kita memberi makanan yang berbasis jagung kepada mereka. Jawabannya adalah karena jagung merupakan “sumber energi” yang jauh lebih murah daripada daging.

Pada tahun 1995, Nature’s Recipe menarik ribuan ton dog food dari rak-rak took setelah consumers mengeluh bahwa anjing mereka muntah-muntah dan kehilangan nafsu makan. Kerugian Nature’s Recipe mencapai US$20 juta. Problemnya adalah terdapatnya jamur yang memproduksi vomitoxin (aflatoxin atau “mycotoxin,” zat beracun yang dihasilkan oleh kelembaban tinggi) yang menkontaminasi gandum yang digunakan. Di tahun 1999, sejenis racun jamur lainnya menyebabkan ditariknya kembali pet food kering yang diproduksi oleh Doane Pet Care di salah satu pabriknya, termasuk Ol’ Roy (label milik Wal-Mart) dan 53 merk lainnya. Kali ini, racun tersebut membunuh 25 ekor anjing.

Meskipun vomitoxin menyebabkan anjing muntah, berhenti makan, dan diare, racun ini lebih lemah dari yang kebanyakan ada. Mycotoxin yang lebih berbahaya dapat menyebabkan kehilangan berat badan, kerusakan hati, lumpuh, bahkan kematian seperti kasus Doane di atas. Insident Nature’s Recipe menyebabkan Food and Drug Administration (FDA) untuk ikut bertindak. Dina Butcher, Agriculture Policy Advisor untuk North Dakota Governor Ed Schafer, menyimpulkan bahwa penemuan vomitoxin dalam produk Nature’s Recipe bukanlah ancaman bagi populasi manusia sebab “biji-bijian yang digunakan untuk makanan hewan bukanlah biji-bijian dengan kualitas bagus.”

Kacang hijau adalah bahan lainnya yang umum digunakan sebagai sumber protein dan energi dalam pet food. Produsen juga menggunakan kaang hijau untuk menambah berat sehingga hewan yang memakan produk yang mengandung kacang hijau merasa lebih kenyang. Meskipun kacang hijau sering dikaitkan dengan timbulnya gas di sebagian jenis anjing, jenis-jenis anjing lainnya tidak mengalami masalah. Makanan anjing vegetarian menggunakan kacang hijau sebagai sumber protein.

Zat  Tambahan dan Pengawet

Banyak zat-zat kimia telah ditambahkan ke dalam pet food komersial untuk memperkuat rasa, stabilitas, karakteristik, atau penampilan makanan tersebut. Zat-zat tambahan tidak mempunyai nilai gizi. Zat-zat tambahan tersebut antara lain emulsifier untuk mencegah terpisahnya air dan lemak, antioxidant untuk mencegah basinya lemak, dan pewarna serta perasa buatan untuk membuat produk menjadi lebih menarik di mata consumer dan lebih enak dinikmati oleh hewan peliharaan mereka.

Penambahan zat-zat kimia kepada makanan berasal dari ribuan tahun yang lalu dengan bumbu-bumbu, pengawet alami dan agen pemasak. Namun, dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, jumlah zat-zat tambahan pada makanan telah meningkat dengan pesat.

Semua pet food komersial harus diawetkan (!) supaya mereka tetap terlihat segar dan menarik di mata hewan peliharaan kita. Pengalengan adalah proses pengawetan tersendiri, sehingga dapat disimpulkan bahwa makanan kaleng mempunyai lebih sedikit pengawet daripada makanan kering.

Kebanyakan supplier menambahkan pengawet ke dalam bahan baku atau bahan mentah, lainnya ditambahkan oleh produsen. Karena produsen perlu memastikan bahwa makanan kering mempunyai tanggal kadaluwarsa yang lama supaya tetap dapat dimakan setelah pengiriman lewat laut dan penyimpanan dalam jangka waktu panjang, lemak yang digunakan dalam pet dood diawetkan dengan menggunakan pengawet “alami” ataupun sintetik.

Pengawet sintetik termasuk butylated hydroxyanisole (BHA) dan butylated hydroxytoluene (BHT), propyl gallate, propylene glycol (juga digunakan sebagai anti pembekuan automotif yang lebih tidak beracun), dan Ethoxyquin. Untuk antioxidant tersebut, terdapat sangat sedikit document yang memberi informasi tentang kadar racun, keamanan, interaksi atau kegunaan kronik dalam pet food yang mungkin dimakan setiap harinya selama hidup anjing peliharaan kita.

Agen yang dapat menyebabkan kanker seperti BHA, BHT, dan Ethoxyquin diijinkan untuk digunakan dalam level rendah. Penggunaan bahan-bahan kimia ini dalam pet food belum sepenuhnya dipelajari, dan efek jangka panjang dari agen-agen tersebut pada akhirnya dapat berbahaya. Karena disebabkan oleh data yang dipertanyakan dalam studi awal keamanan, produsen ethoxyquin, Monsanto, diminta untuk mengadakan penelitian baru yang lebih mendalam. Penelitian ini diselesaikan pada tahun 1996. Meskipun Monsanto tidak menemukan efek racun yang secara signifikan dapat dikaitkan dengan produk mereka, pada bulan July 1997, Center for Veterinary Medicine dari FDA meminta para produsen untuk secara suka rela mengurangi level maksimum ethoxyquin menjadi setengahnya, yaitu 75 parts per million. Sementara sebagian kritikus pet food dan dokter hewan percaya bahwa ethoxyquin adalah penyebab utama dari penyakit, problem kulit, dan kemandulan pada anjing, pihak-pihak lain berpendapat bahwa ethoxyquin adalah pengawet paling aman, kuat dan stabil yang tersedia dalam pet food. ethoxyquin telah disetujui untuk digunakan dalam makanan manusia untuk mengawetkan bumbu-bumbu seperti cayenne dan bubuk cabe, pada level 100 ppm – akan tetapi akan sulit sekali untuk mengkonsumsi cayenee dan bubuk cabe sebanyak anjing makan dog food setiap harinya. Ethoxyquin belum pernah dites untuk keamanan pada kucing.

Beberapa produsen telah merespon kecemasan consumer, dan sekarang telah menggunakan pengawet “alami” seperti Vitamin C (ascorbate), Vitamin E (mixed tocopherols), dan minyak dari rosemary, cengkeh, atau bumbu lainnya, untuk mengawetkan lemak dalam produk-produk mereka. Akan tetapi, masing-masing bahan tersebut telah melewati proses pengawetan juga! Kebanyakan daging olahan ikan, dan campuran vitamin-mineral siap pakai, mengandung pengawet kimiawi. Hal ini berarti hewan peliharaan Anda mungkin memakan makanan yang mengandung beberapa jenis pengawet sekaligus. Hukum federal Amerika Serikat mensyaratkan jenis-jenis pengawet untuk dimuat di dalam label kemasan; akan tetapi perusahaan-perusahaan pet food baru saja mulai mematuhi hokum ini.

Zat-zat tambahan dalam Pet Foods yang diproses:

Anticaking agents

Antimicrobial agents

Antioxidants

Coloring agents

Curing agents

Drying agents

Emulsifiers

Firming agents

Flavor enhancers

Flavoring agents

Flour treating agents

Formulation aids

Humectants

Leavening agents

Lubricants

Nonnutritive sweeteners

Nutritive sweeteners

Oxidizing and reducing agents

PH control agents

Processing aids

Sequestrated Solvents
Vehicles Stabilizers,
Thickeners

Surface active agents

Surface finishing agents

Synergists

Texturizers

Meskipun hokum meminta penelitian tentang efek racun dari zat-zat tambahan dan pengawet tersebut  di atas, mereka belum dites untuk efek sinergi potensial satu terhadap yang lain begitu dicerna. Beberapa penulis telah mengusulkan bahwa interaksi yang berbahaya terjadi di antara beberapa pengawet buatan yang umum digunakan.

Proses Produksi – Bagaimana Pet Food Dibuat

Meskipun percobaan memberi makan sudah tidak perlu lagi dilakukan supaya makanan memenuhi persyaratan bagi label “lengkap dan setimbang”, sebagian besar produsen melakukan studi pengetesan rasa saat membuat pet food baru. Satu set hewan diberi makan pet food baru sementara grup “control” diberi makan formula yang telah ada. Jumlah volume total yang dimakan akan digunakan untuk mengukur seberapa besar makanan tersebut disukai. Perusahaan yang besar dan ternama menggunakan percobaan memberi makan, yang dianggap sebagai cara penilaian yang lebih akurat terhadap nilai gizi makanan tersebut. Mereka menyimpan koloni besar anjing dan kucing untuk tujuan ini, atau menggunakan laboratorium testing yang mempunyai hewan-hewan sendiri.

Kebanyakan makanan kering dibuat oleh mesin yang disebut expander atau extruder. Pertama, bahan mentah dicampur, kadang dengan menggunakan tangan, kadang dengan mesin, sesuai dengan resep yang dikembangkan oleh ahli gizi hewan. Campuran ini dimasukkan ke dalam expander dan uap atau air panas ditambahkan. Campuran makanan yang dikenai uap, tekanan dan panas tinggi dihancurkan dan dilewatkan ke dalam cetakan yang menentukan bentuk akhir makanan, dan dikembangkan seperti popcorn. Makanan ini kemudian dikeringkan, dan biasanya disemprot dengan lemak, campuran lemak atau bahan lain untuk membuatnya lebih berasa. Meskipun proses pemasakan mungkin membunuh baketer di dalam pet food, produk akhir dapat kehilangan sterilitasnya melalui proses pengeringan, pelapisan lemak dan pengemasan. Beberapa makanan dipanggang dalam suhu tinggi dan bukan melalui extruder. Proses ini menghasilkan penganan yang padat dan renyah yang bercita rasa tanpa adanya tambahan perasa. Hewan dapat diberi makan sebesar 25% lebih sedikit dari makanan yang dipanggang, dari volume (bukan dari berat) daripada dengan makanan yang melalui extruder.

Bahan baku yang digunakan hampir mirip untuk makanan basah, kering atau agak lembab, meskipun perbandingan protein, lemak dan serat mungkin berubah. Satu kaleng makanan kucing yang umum dilaporkan mengangung 45-50% by-product daging atau unggas. Perbedaan utama di antara jenis-jenis makanan tersebut adalah kandungan airnya. Adalah tidak mungkin untuk membandingkan secara langsung berbagai label dari jenis-jenis pet food tanpa adanya konversi matematik menjadi “basis bahan kering”. Makanan basah atau kaleng dimulai dengan bahan dasar yang dicampur dengan zat-zat tambahan. Bila potongan besar yang diinginkan, extruder khusus akan menghasilkannya. Semudian campuran tersebut didinginkan dan dikalengkan. Kaleng yang telah disegel akan kemudian dimasukkan ke dalam tempat yang berfungsi sebagai pressure cooker dan proses sterilisasi komersial akan berjalan. Beberapa produsen memasak makanan langsung dari kalengnya.

Apa Yang Terjadi Pada Kandungan Gizinya?

Dr. Randy L. Wysong adalah seorang dokter hewan yang memproduksi sendiri merk pet foodnya. Sebagai kritikus selama bertahun-tahun dari praktek industri pet food, beliau berkata, “proses pembuatan adalah kartu Wild Card yang sering diabaikan dalam masalah nilai gizi. Pemanasan, pemasakan, rendering, pembekuan, dehydrating, pengalengan, extruding, pelleting, pemanggangan, dan lain lain, sudah menjadi begitu umum sehingga orang menggangapnya sama dengan makanan itu sendiri.” Penggunaan daging yang diproses dan juga by-product dalam pet food dapat sangat mengurangi nilai gizi, tapi pemasakan meningkatkan proses penguraian biji-bijian.

Untuk membuat pet food bergisi, produsen harus “memperkaya” pet food dengan vitamin dan mineral. Mengapa? Karena bahan baku yang digunakan bukan dari bahan yang alami, mutunya mungkin sangat naik dan turun, dan praktek produksi yang keras telah menghancurkan banyak dari gizi yang mungkin telah ada.

Kontaminan

Meal daging dan by-product yang diproduksi secara komersial atau melalui proses rendering sering kali terkontaminasi oleh bakteri karena sumber bahan bakunya bukan selalu berasal dari hewan yang disembelih. Hewan yang mati karena sakit, luka atau sebab-sebab alami seringkali menjadi sumber bahan baku daging untuk meal daging. Hewan mati tersebut baru melalui proses rendering beberapa hari setelah kematiannya. Oleh karena itu kerangkanya sering terkontaminsasi bakteri seperti Salmonella dan Escherichia coli. Bakter E. Coli yang berbahaya diperkirakan telah mengkontaminasi lebih dari 50% meal daging yang ada. Walaupun proses pemasakan mungkin membunuh bacteria, ia tidak mengeliminasi endotoxin yang diproduksi oleh bacteria tersebut selama pertumbuhannya, dah dilepaskan setelah bakteri mati. Racun ini dapat menyebabkan sakit dan kematian. Produsen pet food tidak mengetes produk mereka terhadap endotoxin.

Mycotoxins – racun ini dating dari daerah lembab atau jamur, seperti vomitoxin dalam kasus Nature’s Recipe, dan aflatoxin dalam makanan Doane’s. Praktek peternakan yang buruk dan proses pengeringan serta penyimpanan hasil tani yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan pertumbuhan jamur. Bahanbaku yang seringkali terkontaminasi oleh mycotoxins adalah biji-bijian seperti gandum dan jagung, meal dari biji kapas, kacand dan ikan.

Apa Makna Label Yang Sebenarnya

National Research Council (NRC) dari the Academy of Sciences menetapkan standar gizi untuk pet food yang telah digunakan oleh industri pet food sampai akhir 1980-an. NRC standard ini, yang masih ada dan direvisi tahun 2001, didasarkan pada diet murni, dan memerlukan percobaan memberi makan untuk pet food yang mengklaim sebagai “lengkap” dan “setimbang”. Indutri pet food merasa bahwa percobaan tersebut terlalu terbatas dan mahal, sehingga AAFCO mendesain prosedur alternative supaya dapat mengklaim ketersediaan gizi dalam pet food, dengan cara mengetes makanan tersebut untuk memenuhi “Nutrient Profiles.” AAFCO juga menciptakan “komite ahli” untuk gizi anjing dan kucing, yang mengembangkan standar anjing dan kucing yang berbeda. Walaupun percobaan memberi makan masih dapat dilakukan, analisa kimia standar juga dapat dilgunakan untuk menentukan apakah makanan telah sesuai dengan profile yang diminta.

Akan tetapi, analisa kimia tidak membahas rasa, pencernaan ataupun ketersediaan biologis dari gizi di dalam pet food. Oleh karena itu analisa kimia tidak dapat diandalkan untuk menentukan apakah makanan tersebut akan memenuhi kebutuhan gizi hewan.

Untuk mengkompensasi keterbatasan analisa kimia, AAFCO menambahkan suatu “faktor keamanan,” yang harus melewati jumlah nutrisi minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan lengkap dan setimbang.

Pencernaan dan ketersediaan gizi tidak dimuat dalam label pet food!

Mitos 100%
Idea bahwa pet food menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan oleh hewan selama hidupnya adalah sebuah mitos!

Biji sereal adalah bahan baku utama dari kebanyakan pet food komersial. Banyak orang memilih suatu pet food dan memberikannya kepada anjing atau kucing mereka dalam jangka waktu panjang. Oleh karena itu, anjing dan kucing peliharaan mereka makan dengan diet utama karbohidrat dengan sedikit sekali variasi. Hari ini, makanan anjing dan kucing sangat berbeda dari diet utama protein dengan banyak variasi yang dimakan oleh nenek moyangnya. Masalah-masalah yang terkait dengan makanan komersial dapat dilihat setiap hari di kantor-kantor dokter hewan. Masalah pencernaan kronis, seperti muntah-muntah yang parah, diare, penyakit radang lambung adalah termasuk penyakit yang sering dijumpai. Hal ini sering terjadi dari alergi atau intoleransi akan bahan bakupet food.

Pasar untuk makanan “antigen terbatas” atau “protein tingkat tinggi” sekarang telah menjadi bisnis jutaan dolar.  Makanan ini diformulasikan untuk menghadapi intoleransi yang makin meningkat terhadap pet food komersial yang diderita oleh hewan. Trend terbaru adalah makanan “hypoallergenic” sejati dimana seluruh proteinnya dipotong secara buatan menjadi potongan yang lebih kecil dari yang bias dikenali oleh system kekebalan tubuh untuk bereaksi.

Pet food kering komersial sering terkontaminasi oleh bakteri, yang mungkin bisa menyebabkan masalah maupun tidak. Penyimpanan dan proses pemberian makan yang tidak benar dapat menyebabkan bakteri ini berlipat ganda. Sebagai contoh, menambahkan air atau susu untuk melembabkan pet food dan kemudian meninggalkannya dalam suhu ruangan menyebabkan bakteri berkembang biak. Akan tetapi metode ini sering disarankan pada kemasan belakan makanan anak anjing dan kucing.

Formula pet food dan metode penyajian yang direkomendasikan oleh produsen dapat meningkatkan masalah pencernaan lainnya. Memberi makan hanya sekali sehari dapat menyebabkan iritasi tenggorokan oleh asam lambung. Lebih baik memberi makan dua kali sehari dalam porsi lebih kecil.

Rekomendasi atau instruksi penyajian kadang dilebih-lebihkan supaya consumer membeli lebih banyak makanan. Namun, Procter & Gamble dikatakan telah mengambil taktik lain dengan produk-produk mereka Iams and Eukanuba, mengurangi takaran penyajian supaya dapat mengklaim bahwa produk mereka lebih murah. Studi independed yang diterbitkan oleh produsen saingan mengatakan bahwa jumlah yang dikurangi ini tidak cukup untuk menjaga kesehatan. Procter & Gamble telah dituntut di pengadilan dan dituntut ulang oleh produsen pesaing tersebut, dan sebuah keluhan consumer telah dilaporkan telah mencari status class-action untuk kerugian yang ditimbulkan karena instruksi penyajian yang direvisi.

Riset telah membuktikan bahwa pet food komersial menyebabkan berbagai penyakit.

Penyakit jantung pada anjing dan kucing yang sering berakibat fatal saat ini diketahui untuk disebabkan oleh kurangnya taurin asam amino. Kebutaan adalah salah satu gejala lain dari kurangnya taurin. Kekurangan ini disebabkan oleh tidak cukupnya taurin dalam formula makanan kucing, yang terjadi karena berkurangnya protein hewani dan naiknya ketergantungan pada karbohidrat. Kekurangan potassium dalam beberapa makanan kucing juga menyebabkan gagal ginjal pada kucing-kucing muda.

Pertumbuhan pesat dari anjing-anjing trah besar juga berperan dalam penyakit-penyakit tulang dan sendi. Kelebihan kalori dan kalsium dari makanan anak anjing memicu pertumbuhan cepat. Tak terhitung jumlah anjing yang hidup dengan dan mati oleh penyakit pinggang dan siku.

Terdapat juga bukti bahwa hyperthyroidism mungkin terkait dengan berlebihnya yodium dalam pet food komersial. Ini adalah penyakit baru yang muncul di tahun 1970-an, saat produk makanan kaleng mulai muncul di pasaran. Penyebab pasti dan efeknya masih belum diketahui. Penyakit ini serius dan sering membawa kematian, dan perawatannya sangat mahal.

Banyak masalah nutrisi muncul bersama dengan naiknya popularitas pet food komersial yang berbasis sereal. Beberapa terjadi karena asupan makanan tidak lengkap nilai gizingya.

Meskipun beberapa bahan baku sekarang ditambahkan, kita tidak tahu bahanbaku apa yang mungkin ditemukan di masa depan yang seharusnya ditambahkan ke pet food sejak dulu.

Masalah lain mungkin timbul dari reaksi terhadap zat-zat tambahan. Lainnya timbul sebagai hasil kontaminasi bakteri, jamur, obat-obatan atau racun lainnya. Pada beberapa penyakit, peran pet food komersial telah diketahui, pada lainnya tidak. Intinya adalah pola makan yang sebagian besar terdiri dari sereal bermutu rendah dan meal daging yang melalui proses rendering bukanlah makanan bergizi dan aman untuk anjing dan kucing seperti yang Anda kira!

——————————————————————————–

Apa Yang Bisa Anda Lakukan

Tulislah surat atau teleponlah pabrik-pabrik pet food, breeder dan pet stores, dan suarakan kekhuatiran Anda terhadap pet food komersial.

Dokter hewan tidak dilatih atau berspesialisasi dalam masalah nutrisi.

Berikan laporan ini kepada dokter hewan Anda untuk menambah pengetahuannya tentang pet food komersial.

Beritahukanlah keluarga dan teman-teman Anda tentang bahaya pet food komersial.

Berhentilah membeli pet food komersial!

Belilah satu atau lebih buku-buku yang tersedia tentang nutrisi hewan dan buatlah sendiri makanan hewan peliharaan Anda – berilah anjing Anda makanan yang segar dan alami!

Bila Anda kurang yakin,  biarkan ahli gizi mengecek resep Anda untuk memastikan resept tersebut telah lengkap dan setimbang.

References

Association of American Feed Control Officials Incorporated. Official Publication 2001. Atlanta: AAFCO, 2001.

Becker, Ross. “Is your dog’s food safe?” Good Dog!, November/December 1995,

Case, Linda P., M.S., Daniel P. Carey, D.V.M., and Diane A. Hirakawa, Ph.D. Canine and Feline Nutrition: A Resource for Companion Animal Professionals. St. Louis: Mosby, 1995.

Coffman, Howard D. The Dry Dog Food Reference. Nashua: PigDog Press, 1995.

Corbin, Jim. “Pet Foods and Feeding.” Feedstuffs, July 17, 1996, 80-85.

Knight-Ridder News Syndicate. “Nature’s Recipe Recalls Dog Food That Contains Vomitoxin.” August 28, 1995.

New York State Department of Agriculture and Markets. 1994 Commercial Feed Analysis Annual Report. Albany: Division of Food Inspection Services, 1995.

Parker, J. Michael. “Tainted dog food blamed on corn.” San Antonio Express News, April 1, 1999.

Pet Food Institute. Fact Sheet 1994. Washington: Pet Food Institute, 1994.

Pitcairn, Richard H., D.V.M., Ph.D., and Susan Hubble Pitcairn. Dr. Pitcairn’s Complete Guide to Natural Health for Dogs & Cats. Emmaus: Rodale, 1995.

Rhode Island Department of Environmental Management, Division of Agriculture. 1994 Report of the Inspection and Analysis of Commercial Feeds, Fertilizers and Liming Materials. Providence: Division of Agriculture, 1995.

Strombeck, Donald. R. Home-Prepared Dog and Cat Foods: The Healthful Alternative. Ames: Iowa State University Press, 1999.

Winters, Ruth, M.S. A Consumer’s Dictionary of Food Additives. New York: Crown, 1994.

Wysong, R. L. Rationale for Animal Nutrition. Midland: Inquiry Press, 1993.

Artikel ini dipersembahkan kepada Anda oleh

Doggies Paradise Bali


Category : Blog

Leave a Comment